Penelitian PHT Pada Tanaman Wijen


BAB III


PENGAMBILAN CONTOH



3.1 METODOLOGI

Tempat : Desa Kapas, Dusun Karangrejo, Kecamatan Sukomoro,

Kabupaten nganjuk, Jawa Timur


Waktu : Sabtu, 25 September 2009


3.2 Deskripsi Wijen





Wijen (Sesanum indicum L) merupakan tanaman perkebunan/industri berupa pohon berbatang lunak, di Indonesia wijen juga dinamakan walir (Jawa Barat), Lenga (Bali, Gorontalo, Batak), Lena (Seram dan Roti), Langan (Ujung Pandang), Ringa (Bima), Longa (Nias).


Terdapat dua jenis wijen yaitu putih dan hitam. Dalam pengolahan makanan, wijen putih lebih disukai tetapi peluang ekspor keduanya tidak berbeda. Varitas yang dianjurkan adalah varitas unggul Garati KKO, Marada Putih, Bogor Sutami dan Marada Hitam dan varietas unggul harapan Sesamindo (wijen varitas sate) serta Pachequino.

Biji wijen adalah sumber minyak nabati dengan kadar asam lemak jenuh yang rendah yang dapat dikonsumsi langsung, dalam bentuk minyak atau tepung. Selain itu biji wijen diperlukan untuk bahan baku industri seperti farmasi, kosmetika, pestisida dan obat-obatan. Biji dan minyak wijen, secara tradisional, dimanfaatkan untuk mencegah beberapa penyakit.

Hama yang sering dijumpai menyerang tanaman wijen biasanya dari golongan serangga (insektisida), sedangkan penyakit yang biasa dijumpai adalah penyakit yang disebabkan oleh golongan cendawan (jamur), bakteri, dan virus. Adapun gejala serangan hama dan pathogen/penyakit pada tanaman wijwn dan cara pemberantasannya adalah sebagai berikut :

3.3 Hama Tanaman Wijen


1. Kepik Hijau


Tubuh hama kepik hijau berwarna hijau dan berbentuk bulat. Hama ini menyerang tanaman dengan cara mensekresi toksin pada daun. Selain menyerang daun, kepik hijau juga menyerang polong dan biji sehinngga kualitas biji wijen menjadi rendah.


Kepik meletakkan telurnya secara berkelompok pada daun, sekitar 90 butir setiap kelompok. Seekor kepik betina dapat menghasilkan telur hinga 1.100 butir.


Pengendalian hama terpadu yang dilakukan ada dua cara, yaitu :


a. Pengendalian secara mekanis


Pengendalian secara mekanis ini dilakukan dengan cara pemangkasan daun yang telah menjadi sarang telur atau nimfa.


b. Pengendalian secara kimiawi


Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan cara penyemprotan insektisida, misalnya Dursban 20 EC atau Tamaron 200 EC.




2. Thrips (thrips sp.)


Tubuh trips berukuran kecil, sekitar 1 mm. Di kalangan petani hama trips dikenal dengan sebutan hama purih karena nimfanya berwarna keputih-putihan. Hama ini seing dijumpai pada bagian ujung daun dan kuncup daun yang masih muda. Penyebarannya ke tanaman lain dapat berlangsung sangat cepat melalui angin.


Trips menyerang daun tanaman dengan mengisap cairan tanaman sehingga daun mongering karena kehabisan cairan sel. Hama ini menyerang tanaman muda maupun tanaman yang sudah tua. Serangan hebat pada tanaman muda dapat menimbulkan kerusakan totan (tanaman mati). Serangan yang terjadi pada tanaman dewasa juga menimbulkan kerugian yang besar, yakni dapat menggaggalkan perkembangan bunga dan pembentukan tepung sari sehingga polong dan biji tidak terbentuk.


Pengendalian hama terpadu yang dilakukan, yaitu :


a. Pengendalian secara kultur teknis


Pengendalian secara kultur teknis, yaitu melalui pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan merupakan inang, misalnya cabai, tomat, kentang, waluh, dan bayam.


b. Pengendalian secara mekanis


Pengendalian secara mekanis, yaitu dengan pemangkasan daun yang telah menjadi saranga telur dan nimfanya, kemudian dibakar agar telur-telur tersebut tidak menetas.


c. Pengendalian secara kimiawi


Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan penyemprotan insektisida, misalnya Sevin % D, Bayrusil 250 EC, Basudin 60 EC, atau tamaron



3. Kepik perusak daun (Hypomeces squamosus)


Hama kepik perusak daun memiliki ukuran tubuh agak besar, panjang badan mencapai 1,4 cm. Pada saat masih muda, tubuh kumbang ini berwarna kuning cerah, hijau bersisik, atau abu-abu. Setelah dewasa warna tubuhnya berubah menjadi hitam. Larva berwarna putih kelabu.


Hama ini menyerang tanaman dengan cara memakan daun tanaman. Serangan hama kepik perusak daun mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat, tanaman terlihat kurus, serta pembungaan dan pembentukan polong terhambat.


Pengendalian hama terpadu yang dilakukan, yaitu :


a. Pengendalian secara biologis


Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan cara penyebaran musuh-musuh alaminya untuk stadia larva, yaitu Tachinidae.


b. Pengendalian secara kimiawi


Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan penyemprotan insektisida, misalnya Basudin 10 G, Ekalux 5 G, Hosthation 5 G, Furadan 3 G, atay Curater 3 G.


4. Wereng (Phaedonia inclusa)


Tubuh wereng berwarna hitam, bagian sisi tubuh bergaris-garis kuning dan bagian kepala dan tepi sayap depan berwarna kecokelat-cokelatan. Hama ini meletakkan telurnya pada daun. Telur berwarna kuning dan akan menetas setelah delapan hari.


Hama wereng merupakan hama pemakan daun dan tunas (pucuk tanaman). Namun, hama ini juga diketahui merusak bunga, polong yang masih muda. Akibat serangan hama ini menyebabkan pucuk batang dan daun-daun tanaman layu karena tangkai atau pucuk batang patah. Sebagian besar bunga rusak sehingga tidak menghasilkan polong. Serangan pada polong menyebabkan polong keriput dan tidak berisi.


Pengendalian hama terpadu yang dilakuakan, yaitu :


a. Pengendalian secara mekanis


Pengendalian hama wereng secara mekanis dilakukan dengan memangkas dan memusnahkan daun yang telah menjadi sarang telur dan nimfa.


b. Pengendalian secara kimiawi


Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan penyemprotan insektisida, misalnya Hostathion 40 EC, Sevin 85 SP, Azodrin 15 WSC, atau Surecide 25 EC.



5. Ulat penggerek polong (Etiella zinckenella)


Ulat penggerek polong merupakan hama perusak polong. Hama ini merupakan larva dari ngenat. Ngengat meletakkan telurnya di bawah daun polong. Setelah telur menetas, larva (ulat) yang terbentuk segera menyerang polong.


Gejala yang tampak dari serangan ulat ini adalah polong berlubang-lubang dan pada lubang tersebut terdapat benang-benang putih yang berfungsi untuk menutupi lubang. Selanjutnya, ulat memakan/mengisap polong menjadi hampa (tidak berisi).


Pengendalian hama terpadu yang dilakukan, yaitu :


a. Pengendalian secara mekanis


Pengendalian hama ulat penggerek polong dapat dilakukan secara mekanis, yaitu dengan mengambil dan memusnahkan polong yang telah berisi ulat serta memangkas daun yang telah menjadi sarang telur.


b. Pengendalian secara kimiawi


Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan penyemprotan insektisida, misalnya Dursban 20 EC, Thoidan 35 EC, Agrotion 50 EC, atau Azrodin 15 WSD. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada saat tanaman membentuk polong karena biasanya ulat menyerang polong yang masih muda.



3.4 Penyakit Tanaman Wijen


1. Bercak daun (Leaf Spot)


Bercak daun disebabkan oleh cendawan Cercospora sp. Patogen ini menyerang daun tanaman, baik tanaman yang masih muda maupun tanaman dewasa. Tanaman yang terinfeksi cendawan ini memperlihatkan adanya bercak nekrosis pada daun, yang dikenal sebagai bintik fleeks. Lama kelamaan, bintik-bintik ini akan tampak jelas, berwarna gelap, dan tidak teratur, dikenal sebai noda. Noda-noda berwarna gelap tersebut merupakan massa spora cendawan patogen.


Akibat serangan cendawan ini jaringan daun mengalami kerusakan atau bahkan mati, daun menjadi berlubang-lubang, terutama pada bagian-bagian yang gterinfeksi. Kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit bercak daun adalah penurunan produksi polong dan biji menurun.


Perkembangan pathogen di sekitar pertanaman sangat berhubungan dengan kondisi lingkungan setempat, terutama kondisi curah hujan dan kelembaban nisbi udara. Curah hujan dan kelembaban nisbi yang cukup tinggi sangat mendukung perkembangan cendawan ini.


Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui tanah yang mengandung sisa-sisa tanaman sakit yang dibuang/ditimbun di lokasi kebun, daunn-daun tanaman yang terinfeksi, ataupun percikan air hujan yang dapat membawa massa spora ke daun tanaman lain.

Pengendalian yang dilakukan, yaitu ;


a. Pengendalian secara mekanis

Pengendalian secara mekanis dapat dilakukan dengan cara membongkar tanaman yang sakit parah dan membakarnya serta memangkas daun yang terinfeksi patogen, jika serangan belum meluas ke seluruh tanaman.


b. Pengendalian secara kultur teknis

Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan pengolahan tanah secara intensif, openggunaan air pengairan yang sehat dan baik, disinfeksi benih, pengaturan jarak tanam, dan penyiangan gulma dan rerumputan.


c. Pengendalina secara kimiawi

Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan penyemprotan fungisida, misalnya Manzate 200, Difolatan 4 F, Orthocide 50 WP, atau Bavistin 50 WP.





BAB IV

PENUTUP


4.1 Simpulan

Hama adalah sekelompok binatang yang aktivitas hidupnya dapat menyebabkan kerugian secara ekonomis bagi manusia akibat kehilangan hasil pada tanaman yang sengaja dibudidayakan oleh manusia baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Penyakit adalah jamur, bakteri, virus dan lain-lain yang aktivitas hidupnya menyebabkan kerugian secara ekonomis bagi manusia akibat kehilangan hasil pada tanaman yang sengaja dibudidayakan oleh manusia baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Pengendalian hama terpadu adalah pengendalian hama yang dilakukan dengan mengggunakan kekuatan unsur-unsur alami yang mampu mengendalikan hama agar tetap berada pada jumlah di bawah ambang batas yang merugikan.

Terdapat empat unsur dasar setiap program PHT adalah pengendalian alamiah, pengambilan (sampling), tingkat ekonomik dan pengetahuan yang lebih mendalam tentang biologi dan ekologi dari semua jenis serangga yang penting dalam sistem itu. Setiap unsur adalah penting dan memberikan bantuan peran yang lebih besar kepada semua komponen yang dapat diterapkan dan disesuaikan dalam setiap pengelolaan serangga hama.

Cara-cara pengendalian hama terpadu yang digunakan, yaitu pengendalian kultur teknik atau budidaya, hayati atau biologis, kimiawi, varietas tahan, serta fisik dan mekanik. Cara pengendalian yang paling sering digunakan yaitu pengendalian secara hayati atau biologis dengan menggunakan musuh alami dari hama tersebut. Untuk pengendalian secara kimiawi dipergunakan apabila serangga hama populasinya telah melewati ambang ekonomik.

DAFTAR PUSTAKA



Dede Juanda J.S. & Ir. Bambang Cahyono. 2005. WIJEN, Teknik Budi Daya dan Analisis Usaha Tani. Kanisius : Yogyakarta.


Winarno, Baskoro. 1989. Pengantar Praktis pengelolaan Hama Terpadu. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya : Malang.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

0 Response to "Penelitian PHT Pada Tanaman Wijen"

Post a Comment